mengadopsi sepakbola inggris



Tampilan website Blue Square Premier, kompetisi semi profesional dan amatir di Inggris

Bukan karena eksklusifitas atau fanatisme semata bila Ongisnade.Net membuat Liga Inggris sebagai acuan dalam hal konsep penyajian berita maupun tampilan secara global pada situs www.ongisnade.net. Liga Inggris sangat mengerti, memahami, dan tahu caranya “menjual” sepakbola secara keseluruhan, mulai dari pertandingan sepakbola itu sendiri, merchandise, fanatisme suporter, hingga gaya hidup.

Hal lain yang tidak bisa dihindari adalah budaya sepakbola Inggris yang sudah tertanam sejak tahun 1800an. Meski menurut banyak catatan sejarah sepak bola pertama kali tidak dimainkan di Inggris (Britania Raya), namun tidak bisa dibantah Inggris adalah penggagas ide-ide dan peraturan sepak bola modern.

Di sini saya tidak akan membicarakan prestasi klub atau prestasi tim nasional Inggris, karena bersifat sangat fluktuatif dan bersaing ketat dengan negara-negara Eropa daratan, teruama Spanyol dan Italia. Tetapi lebih membahas sepak bola secara umum, bagaimana mengemas dan menjual sepak bola itu sendiri.

Inggris mempunyai lebih dari sembilan kasta kompetisi, mulai Premier League yang teratas, Football League (Championship, League One, League Two), hingga kompetisi non liga, dulu disebut Conference, sekarang terbagi menjadi tiga yang paling atas, yaitu Blue Square Premier, Blue Square South, dan Blue Square North.

Ada lebih dari tiga ribu klub Inggris memainkan pertandingan setiap pekannya. Bisa dibayangkan bagaiamana Inggris yang kawasannya tidak lebih besar dari Kalimantan itu mengatur kompetisi sepakbola yang sedemikian banyak. Tentu saja, pondasi asosiasi sepak bola Inggris yang sudah mengakar kuat turut menunjang tertatanya sistem kompetisi di Inggris.

Di Indonesia, sebagian besar (atau bahkan semua) pecinta Liga Inggris akan memilih tim favorit tidak jauh dari Manchester United, Liverpool, Arsenal, atau Chelsea. Bukan hal yang aneh dan wajar memang karena memang klub-klub itulah yang paling sering menghias layar kaca dan tampil di majalah atau koran. Publikasi dan informasi menjadi senjata paling ampuh bagi klub Inggris untuk menaikkan citra dan popularitasnya.

Tapi jangan salah, tidak sedikit orang London yang mengidolai West Ham, Charlton Athletic, Crystal Palace, atau bahkan Millwall sebagai klub favorit mereka. Kebanggaan akan sebuah klub tidak bisa digantikan oleh gelar juara, pemain bintang, bahkan kasta kompetisi sekalipun.

Jangan kaget pula bila lebih dari 20 ribu penonton selalu memadati Stadion Elland Road, markas Leeds United, padahal klub yang pernah menjadi kuda hitam di Inggris dan Eropa awal 2000an itu kini berkubang di League One alias kasta ketiga kompetisi Liga Inggris.

Bradford City, tim yang di akhir 90an juga menghuni Premiership kini bermain di League Two, setingkat di bawah League One, tapi penonton di Valley Parade tetap setia mendukung The Bantams -julukan Bradford-.

Bahkan, kompetisi non liga di luar kasta Premiership dan Football League pun tertata sangat rapi, dan tentu saja tetap bisa “dijual”, padahal kalau di Indonesia, kompetisi yang disebut Blue Square Premier itu mirip dengan kompetisi tarkam alias antar kampung, atau bila tidak lebih tinggi dari antar kecamatan.

Memang, terlalu jauh membandingkan Liga Inggris dengan Liga Indonesia, tapi bila kita bisa mulai mengambil sisi-sisi yang postiif untuk diterapkan di persepakbolaan kita, mengapa tidak? Mulai belajar menata sistem kompetisi, penegakan hukum kompetisi, law of the game, respect the referee, hingga bagaimana “menjual” sepakbola itu menjadi sebuah komoditas bisnis bernilai jutaan dolar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s