Sepakbola Negatif dan Kemunduran Mental


Di atas kertas, satu poin yang diraih timnas Indonesia di kandang Oman mengundang senyum. Namun,dari strategi di lapangan,apakah hasil imbang 0-0 itu layak disebut kesuksesan? Mendengar status Oman sebagai juara baru Piala Teluk 2009 memang cukup membuat bulu kuduk orang Indonesia bergidik. Sebab, selang dua hari seremonial kejuaraan itu,timnas Indonesia harus menjajal tim Asia Barat itu di Muscat,Senin (19/1). Hasilnya, imbang.

Dalam pandangan semu, skor tanpa gol itu terasa membanggakan dan bisa jadi modal dalam pertarungan tim Merah Putih di Grup B yang tergolong maut bersama Australia, Oman,dan Kuwait.

Namun, jika mencermati permainan di lapangan, apa yang dipetik armada Benny ‘Bendol’ Dollo tak lepas dari sebuah keberuntungan semata. Buruknya penyelesaian akhir para pemain Oman juga ikut berperan menghadiahi satu poin untuk Indonesia.

Sebenarnya, penampilan Charis Yulianto dkk cukup memesona meski ada beberapa pemain yang tidak dalam performa terbaik.Faktanya, dalam 45 menit pertama, tim Merah Putih sempat mengancam gawang Oman. Sebut saja saat penempatan bola Boaz Solossa mampu ditepis kiper lawan.

Sayang,optimisme itu justru dibungkam sendiri oleh sang pelatih. Bendol melakukan beberapa pergantian yang membuat timnas terjebak dalam badai serangan. Pertama,saat dia menarik Budi Sudarsono di awal babak kedua dengan memasukkan TA Musafri. Padahal, Budi cukup ideal untuk melakukan serangan balik cepat.

Parahnya lagi,strategi sang nakhoda semakin paranoid dengan menarik playmaker Firman Utina dan menggantinya dengan defender Nova Arianto.Dan,beberapa menit terakhir, Bendol kembali melakukan keputusan mengejutkan. Dia mengeluarkan Boaz untuk memberi kesempatan bek sayap Erol Iba.

Praktis, Indonesiasemakinterkepung. Pilihan memainkan sepak bola negatif terbukti memberi Oman kesempatan membuat peluang gol lebih banyak. Aplaus patut diarahkan kepada kiper Indonesia Markus Horison yang tampil menawan. Dan, terima kasih pula kepada dewi fortuna yang bersedia ikut campur sehingga The Reds–julukan Oman–gagal mencetak gol.

Pertanyaannya, apakah Indonesia tak punya cukup kualitas untuk memberi perlawanan yang lebih terhormat? Apakah harus sepak bola negatif yang dipilih demi gawang tidak kebobolan,tapi mengesampingkan bagaimana caranya mencetak gol ke gawang lawan?

Sejarah mencatat, anakanak Indonesia pernah cukup merepotkan tim-tim besar Asia Barat. Seperti saat gol salto indah Widodo C Putra dan eksekusi Ronny Wabia memaksa Kuwait main imbang 2-2 pada Piala Asia 1996 di Uni Emirat Arab.Atau kala Indonesia melibas Qatar 2-1 pada Piala Asia 2004 melalui gol Budi Sudarsono dan Ponaryo Astaman yang masih ada dalam skuad Bendol saat ini.

Dan, masih terngiang dalam ingatan bagaimana tim Merah Putih melibas Bahrain 2-1 serta merepotkan Korea Selatan dan Arab Saudi pada Piala Asia 2007 di Jakarta. Intinya, tim Merah Putih sebenarnya punya potensi dan kualitas melakukan serangan balik dan mengejutkan lawan.Jadi,sepak bola negatif bukanlah pilihan mengingat sumber daya manusia yang dimiliki bangsa ini.

Memilih sepak bola negatif adalah kemunduran pemikiran dan mental setelah sebelumnya tim Merah Putih pernah memberi perlawanan secara gagah berani dengan serangan balik yang tetap tak melupakan pertahanan ketat. Pilih sepak bola negatif lagi saat melawan Australia, Mr. Bendol? (sdo)

oleh: Abdul Haris, wartawan Sindo

Iklan

2 pemikiran pada “Sepakbola Negatif dan Kemunduran Mental

  1. pertanyaan yg benar2 hebat……..(Abdul Haris)

    saya berharap “BENDOL” membaca artikel ini, jng hanya mencemooh klub lain, padahal dia sendiri tidak punya kualitas………
    “BENDOL” belajarlah lebih bnyk lg tentang sepak bola profesional dan juga coba belajar jaga MULUT…….
    dsini bukan itali, amerika, ataupun inggris…….dsini indonesia, belajarlah atittude ala Indonesia………
    hidup indonesia……….GARUDA diDADA q
    :-P

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s