Piala Kemerdekaan & ke-Indonesiaan Kita


Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, dalam beberapa bulan ke depan sudah menghirup udara bebas alias keluar dari hotel prodeo. Dilihat dari kacamata positif, sedikit perubahan bagi dunia sepakbola kita dimana persepakbolaan tidak lagi dikendalikan dari balik terali besi. Negatifnya? Mungkin bisa rekan-rekan deskripsikan sendiri (sudah terlalu panjang kita mengulas dan membicarakan hal ini). Baru-baru ini, Nurdin Halid menulis sebuah opini bertema Piala Kemerdekaan -yang kita tahu semua Indonesia memenanginya dengan sebuah noda atas sebuah fair play di partai final menghadapi Libya-. Berikut tulisan selengkapnya seperti disadur dari situs resmi PSSI.

Perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-63 tahun 2008 ini terasa istimewa bagi dunia olahraga Indonesia. Betapa tidak, di tengah krisis multidimensional yang berkepanjangan sejak era reformasi 10 tahun terakhir, olahraga Indonesia berhasil mempertahankan tradisi medali emas di pesta olahraga dunia paling bergengsi Olimpiade, lewat pasangan ganda putra bulutangkis Markis Kido/Hendra Setiawan.

Kita pantas berterima kasih dan berbangga atas kepahlawanan kedua duta bangsa ini. Sebab, sekeping medali emas itu sungguh menyejukkan di tengah keterpurukan prestasi olahraga nasional dalam satu dekade terakhir. Dunia olahraga kita masih bisa berdiri tegak di tengah percaturan olahraga dunia.

Kedua, HUT RI ke-63 ini juga ditandai oleh dihidupkannya kembali Turnamen Sepakbola Internasional Piala Kemerdekaan RI yang sempat vakum selama 8 tahun. PSSI berusaha keras menghadirkan kembali event internasional ini dengan dua tujuan pokok.

Pertama, Piala Kemerdekaan menawarkan sebuah panggung ke-Indonesiaan raksasa bagi masyarakat Bangsa ini. Sejarah telah menunjukkan secara terang-benderang kepada kita betapa kelahiran PSSI pada 19 April 1930 digerakkan oleh spirit tunggal: patriotisme dan nasionalisme.

Itulah jatidiri sepakbola bagi masyarakat Bangsa ini, yaitu sepakbola yang menguatkan rasa kebangsaan, rasa kebersatuan, dan rasa cinta Tanah Air. Bagi Indonesia, sepakbola memiliki daya pikat dan daya ledak luar biasa sehingga saya menyebut Negeri ini sebagai Bangsa Bola. Itu pula makna yang terkandung di balik pujian Presiden Mohamed bin Hammam bahwa Indonesia adalah Brasil dari Asia.

Intinya, bahwa Indonesia memiliki jutaan pesepakbola berbakat yang kental dengan gaya sepakbola indah, serta sekitar 150 juta penduduk Indonesia yang menggandrungi sepakbola. Dalam konteks itu, Piala Kemerdekaan menjadi simbol supremasi sekaligus legitimasi atas potensi hebat sepakbola Indonesia.

Kedua, panggung raksasa itu sekaligus merupakan muara sekaligus puncak hiruk-pikuk aktivitas pembinaan persepakbolaan nasional. Maksudnya, pada saat pagelaran Piala Kemerdekaan, perhatian seluruh masyarakat Bangsa dan insan sepakbola Indonesia, tertuju ke Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Harus diakui, PSSI terpanggil untuk menghidupkan kembali Piala Kemerdekaan tahun 2008 ini karena terinspirasi oleh sensasi panggung raksasa Piala Asia 2007 lalu. Tim Merah Putih memang gagal melaju ke babak 8 besar, namun seluruh anak Bangsa merasa bangga dan larut dalam kebersatuan sebagai sebuah masyarakat Bangsa yang terikat oleh sejarah dan digerakkan oleh nafas ke-Indonesiaan yang pluralis namun satu.

Piala Asia 2007 mampu menghidupkan ke-Indonesiaan kita yang tercabik-cabik akibat krisis multidimesnional — sosial ekonomi, budaya, dan politik serta keamanan (separatisme) – selama satu dasawarsa reformasi. Merah Putih dikibarkan dengan gagah berani, lagu Indonesia Raya berkumandang menggema. Kawasan di seputar dan di dalam Stadion GBK berubah menjadi lautan Merah Putih. Lagu Indonesia Raya berkumandang gegap gempita mengguncang stadion terbesar di Asia itu, menggetarkan hati segenap anak Bangsa di seluruh pelosok Tanah Air yang menyaksikan lewat layar televisi. Semua merasa berbangga sebagai Bangsa Indonesia, dan sebagian dari kita meneteskan air mata haru.

Itulah yang mengilhami PSSI untuk merancang Piala Kemerdekaan dengan model baru. Pertama, mengajak Pemerintah memberikan perhatian istimewa terhadap Piala Kemerdekaan karena event ini sejatinya milik negara-bangsa ini. Ide itu mendapat dukungan positif dari Pemerintah yang ditandai oleh penerimaan Panitia sekaligus penyambutan Piala Kemerdekaan di Istana Wapres pekan lalu. Wapres juga yang akan menutup Piala Kemerdekaan pada 29 Agustus 2008 mendatang.

Kedua, untuk lebih bergengsi dan menarik, PSSI mengundang tim-tim kuat. Sayang, rencana menghadirkan klub elit AS Roma dan Lazio dari Eropa (Italia) serta River Plate dan Racing dari Amerika Latin (Argentina) sebagai kiblat sepakbola dunia, batal. Kegagalan itu terutama karena jadwal Piala Kemerdekaan sangat dekat dengan kompetisi di Italia dan Argentina sehingga keempat klub sulit mengirim tim utama mereka, apalagi pemain bintang.

Sebagai kegiatan pertama setelah vakum 8 tahun, saya harus akui bahwa Piala Kemerdekaan 2008 belum mencapai level ideal yang kita impikan. Salah satu kekurangannya adalah belum adanya tim internasional yang berkualitas dan bereputasi tinggi. Padahal, kualitas pesertalah yang mampu mengangkat gengsi dan mutu event internasional yang menjadi kebanggaan kita bersama.

Melihat peta kekuatan di Piala Kemerdekaan tahun ini, saya optimistis Tim Merah Putih akan sukses mempertahankan gelar juara yang direbut tahun 2000. Secara kualitas, kekuatan Myanmar, Kamboja, dan Brunei berada di bawah Indonesia. Kalau ada yang berpotensi menjegal langkah tim asuhan Benny Dollo, itu adalah Libya. Saya berharap Indonesia bertemu Libya di partai final ideal dan kita tampil sebagai pemenang.

20 Event

Piala Kemerdekaan tentu bukanlah satu-satunya puncak, juga bukanlah segalanya bagi persepakbolaan Indonesia. Piala Kemerdekaan hanyalah salah satu dari puluhan event yang dijalankan PSSI sepanjang tahun 2008.

Event nasional, misalnya, kompetisi nasional Divisi I, II, dan III, kompetisi yunior U-15 Medco Cup, Liga Futsal Profesional, kejuaraan nasional sepakbola putri U-19 sebagai embrio Liga Sepakbola Wanita, Djarum Indonesia Super League, dan Liga Esia Divisi Utama, serta kompetisi yunior U-19.

Untuk meningkatkan mutu kegiatan-kegiatan tersebut, PSSI menyelenggarakan beberapa kegiatan seperti Kursus Pelatih Lisensi A AFC, Kursus Pelatih Lisensi B, Kursus Penyegaran Wasit dan IP setiap jenjang kompetisi, Workshop Divisi I, Workshop Divisi II, Kursus Kepelatihan Sepakbola Putri oleh Instruktur FIFA Monica Stab, Kursus Media Officer untuk Klub Profesional Liga Super dan Divisi Utama oleh Instruktur FIFA Jorge Baptista, dan masih banyak lagi.

Event internasional, misalnya, menjadi tuan rumah Piala ASEAN (AFF) U-16 di Jakarta, lolos ke putaran final Kejuaraan Piala Asia Futsal, mengikuti Kejuaraan Futsal AFF pada akhir Agustus 2008, mengikuti kejuaraan sepakbola wanita U-19 AFF di Bangkok pada Oktober 2008, menjadi tuan rumah kejuaraan sepakbola pantai Asia di Denpasar pada Oktober 2008, menjadi tuan rumah undian Piala AFF pada 27 Agustus 2008, tampil di putaran final Piala Asia U-17 di Uzbekistan Oktober 2008, dan menjadi tuan rumah Piala AFF Desember 2008.

Di tengah penyelenggaraan Piala Kemerdekaan saat ini, Indonesia juga mendapat kepercayaan FIFA dan AFF untuk menyelenggarakan Program FIFA Futuro III Administration & Management Course Modul 2: Media, Marketing & Communications. Program FIFA Development itu digelar di Jakarta, 23 – 27 Agustus 2008.

Target: Piala AFF

Piala AFF menjadi target utama PSSI tahun 2008. Bukan hanya mencapai target sukses penyelenggaraan, tapi sukses prestasi merebut gelar juara. Sejak digelar tahun 1996, Indonesia tak sekali pun memboyong Piala ASEAN ke Bumi Pertiwi. Padahal, sudah tiga kali tim nasional kita menembus hingga babak final, yaitu tahun 1998, 2002, dan 2004.

Bagi PSSI, gelar juara adalah target yang realistis. Selain bertindak sebagai salah satu tuan rumah bersama Thailand, tim nasional kita memiliki kemampuan untuk menjadi yang terbaik tahun ini. Selain fakta bahwa kita pernah tiga kali tampil di final, kualitas Tim Merah Putih juga mengalami banyak kemajuan dan relatif stabil dalam lima tahun terakhir.

Beberapa pencapain yang patut dicatat adalah lolos ke putaran final Piala Asia 2004 Cina, menduduki posisi ketiga grup di putaran final Piala Asia 2004 Cina setelah mengalahkan tim kuat Asia Qatar 2-1, masuk final Piala AFF tahun 2004, serta permainan berkualitas tinggi di putaran final Piala Asia 2007.

Piala Asia 2007 itulah modal utama kita menatap Piala AFF 2008. Modal utama dimaksud adalah permainan sepakbola modern bermutu dan dukungan penonton yang luar biasa. Mayoritas pemain pilar Timnas kita saat ini masih dihuni pemain Piala Asia lalu seperti Markus Horison, Charis Yulianto, Maman Abdurahman, M. Ridwan, Ricardo Salampessy, Ponaryo Astaman, Syamsul Haerudin, Firman Utina, Ellie Aiboi, Budi Sudarsono, dan Bambang Pamungkas.

Dukungan penonton yang luar biasa di Piala Asia lalu bakal kembali menjadi kekuatan dahsyat bagi Tim Merah Putih di Piala AFF nanti. Saya sangat yakin, atmosfir Piala Asia 2007 akan terulang di Piala AFF akhir tahun 2008 ini. Kuncinya, para pemain harus bisa mempertontonkan permainan berkualitas dengan semangat pantang menyerah seperti di Piala Asia lalu.

Semifinal Piala Asia 2004 Bahrain kita gebuk 2-1. Dua tim Asia kelas dunia, Arab Saudi dan Korea Selatan, dibuat pontang-panting sebelum mengalahkan kita dengan susah payah. Arab Saudi harus menunggu masa injury time untuk menang 2-1. Korsel nyaris terlempar dari grup kalau saja kiper Markus Horison tidak terkecoh oleh bola yang berubah arah setelah membentur badan salah satu pemain belakang kita. Kita kalah 0-1 dan Korsel yang lolos.

Kalau di Piala Asia saja, kita mampu mengalahkan Bahrain serta merepotkan Arab Saudi dan Korsel di Stadion Utama Gelora Bung Karno, wajar kalau kita menebar optimisme tinggi: di stadion yang sama, Bambang Pamungkas dan kawan-kawan mampu menjungkalkan tiga tim kuat Asia Tenggara, yaitu Thailand, Singapura, dan Vietnam. Menghempaskan tiga tim yang menjadi momok itu berarti mahkota Piala AFF dalam genggaman.

Nurdin Halid (Ketua Umum PSSI)

Media Online Aremania ONGISNADE.NET

Iklan

8 pemikiran pada “Piala Kemerdekaan & ke-Indonesiaan Kita

  1. hahahahaha

    di dalam penjara aja masih cari simpati, lagian siapa percaya itu surat dibuatnya sendiri, paling2 dibuatin ajudannya

  2. msh inget nurdin pernah bilang ISL = LIGA INGGRISnya IND0NESIA????

    kenyataanya k0mpetisi msh terganggu jadwal m0l0r,wasit yg kurang “pendidikan”,stadi0n yg kurang memenuhi persyaratan!!!

    nurdin meg g0lek bati tk0 JABATANE t0g!! Ng0m0ngn0 NASI0NALISME tp awake K0RUP!!!

    Loyalitas Tanpa Batas
    slm 1 jwa
    A RE MAAAAAA

  3. Manusia Ga Punya Rasa Malu…

    Apa sebenarnya yang kau harapkan nurdin, berharap akan ada perbaikan persepakbolaan di Indonesia?? Bagaimana mungkin dapat terjadi wong pemimpinnya ga disiplin, mantan narapidana, ga berwibawa lagi…..

    Cuman zakit hati doankz nyaksiin penyakit ini….

  4. jancooookkkkk…..jarene wes njaluk seporo….saiki ngenyek maneh…..

    kediri jancooookkkkkk………

    delok’en yohhh…..ta sweeping wong kediri d malang…….

    klub mlarat pemain ga di bayar…rakyat tambah mlarat….

    kuapooookkkkkk……

    ORANG KEDIRI HARUS TAU SESUATU TTG AREMA…

    AREMA ANTI APBD!!!!!AREMA ANTI UANG RAKYAT…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s