Jangan Pecah Hubungan KONI-Menegpora


Suporter IndonesiaAda tiga yang menjadi pemicu persoalan olahraga nasional gencar menjadi bahan pembicaraan. Dua dari sepakbola, sedang yang ketiga dan ini bisa menjadi puncaknya datang dari Menegpora dan KONI.

Dari sepakbola menyangkut soal yang ramai dibicarakan, yaitu bantuan dana APBD dan Statuta FIFA yang belum juga dilaksanakan oleh PSSI.

APBD bisa menjadi bisul, karena si pemberi maupun si penerima masih mengandalkan pasal-pasal karet dalam penerapannya. Dalam peraturan pemerintah hanya disebut dana hibah dan sosial. Bukankah hibah dan sosial menjadi luas maknanya? Bukankah olahraga juga masuk dalam pengertian itu?

Tidak ada penjelasan yang tegas dari pemerintah. Apalagi pengawasan dalam sektor ini juga terbilang longgar. Maka hampir dipastikan, APBD hanya terbatas sebagai gangguan di dalam pemikiran saja. Kalau diibaratkan bisul, masih kecil dan efeknya hanya gatal-gatal saja. Belum membawa jera pelaku-pelakunya.

APBD akan menjadi as roda pemutar kompetisi sepakbola di Tanah Air dalam kurun waktu setahun, dua tahun, bahkan bisa jadi cukup lama. Dan akan meninakbobokan klub-klub hingga pada satu saat kemandirian klub tidak ada lagi.

***

Bisul yang lebih besar ada pada Statuta FIFA. Sampai saat ini belum ada tanda-tanda PSSI ingin melaksanakan statuta ”komandannya” itu. Mereka sepertinya ingin bunuh diri bersama-sama hingga jika nanti ada sanksi dari FIFA, mereka pun tidak mau repot-repot.

Repot? Pasti. Sebab, kalau ingin melaksanakan Statuta FIFA, misalnya dengan menyelenggarakan Munaslub, pengurus bakal mencari dana untuk mensukseskannya. Dana itu tidak sedikit, dan bagi pengurus sekarang ini, munaslub itu berarti menyerahkan kepengurusan (hasil munaslub) kepada orang lain. Bagi mereka yang berpandangan sempit pastilah ogah menjalankannya.

Jadi, bisul ini akan pecah saat FIFA menagih janji PSSI yang akan melaksanakan Statuta. Deadline tidak dipatuhi, hukuman pun akan jatuh. Kapan? Biasanya saat FIFA bersidang. Menurut rencana, FIFA akan berkongres bulan Juni mendatang.

Bisul ketiga, dan ini sebenarnya lebih mengerikan bagi dunia olahraga, yakni perseteruan tiada henti antara KONI-KOI dan Menegpora. Dari awal sudah berperang, dari penafsiran yang beraneka ragam tentang produk Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional, terbentuknya Satuan Tugas, hingga rencana pengambilalihan peran pembinaan olahraga prestasi oleh pemerintah.

Mengerikan, karena perseteruan terjadi antara dua kubu yang menjadi penentu pembinaan olahraga di Tanah Air. Dampaknya, lagi-lagi ada contoh misalnya Kuwait yang dihukum oleh FIFA karena pemerintahnya terlalu ikut campur dalam pembinaan olahraganya. Memang bukan IOC, tapi FIFA merupakan anggota IOC. Roh organisasi anggota IOC pada dasarnya sama, yaitu Olympic Chartered, yang di dalamnya membatasi peran pemerintah terhadap pengelolaan olahraga di masing-masing negara. Tujuannya untuk mengedepankan bahwa olahraga adalah universal, menyatukan warna kulit, bangsa, dan negara.

Sikap Menegpora terhadap KONI sudah berlebihan. KONI nggak becus, rasanya semua insan olahraga setuju. Sampai sekarang KONI belum mandiri, khususnya adalah soal dana organisasi.

Tapi, kalau sampai peran KONI diambil alih, itu adalah pemikiran jangka pendek dan pemborosan. Apalagi kalau sampai melembagakan Satgas, yang identik dengan Komite Olimpaide Indonesia itu.

Disebut jangka pendek, karena pasti suatu saat akan berubah lagi. Karena tidak lazim dengan ketentuan IOC. Dianggap pemborosan, berarti ada dua lembaga yang mengurusi olahraga prestasi. KONI perlu biaya, KOI perlu dana, belum lagi Satgas. Pastilah IOC akan menerima kehadiran wakil KOI ketimbang Satgas di arena inetrnasional. Mereka tidak kenal dengan Satgas, yang mereka tahu adalah KOI sebagai anggota mereka di Indonesia.

Yang dikawatirkan, Menegpora kita, Adhyaksa Dault, bicara asal jeplak. Sama seperti ketika ia mengumumkan bonus emas SEA Games sebesar 200 juta per kepala yang ternyata keliru. Untuk emas perorangan memang benar, tapi untuk beregu sesuai dengan jumlah atlet yang turun di lapangan. Bukan seluruh anggota tim. Belum lagi ada hal berbeda untuk pelatih.

Soal pelatih menjadi miris melihat siaran langsung di TVRI waktu pemberian bonus, Sabtu (12/1) lalu. Duduk di kursi depan, berjok empuk adalah para pejabat yang belum tentu sudah lama bergelut di dalam dunia olahraga. Sementara seorang Christian Hadinata dan mantan juara dunia yang lain, duduk entah di mana, tanpa diberi penghargaan duduk bersama para Menteri dan pejabat KONI di deretan paling depan. Acara itu kan acara olahraga.

Kalau Pak Menteri bilang, olahraga di Indonesia seperti tari poco-poco, ramai di arena tapi miskin prestasi, itu berarti menepuk muka sendiri. Bukankah di antara para penari itu Pak menteri berada di dalamnya? Bahkan bisa jadi sebagai pengatur geraknya?

Bisul juga begitu. Orang kena bisul ributnya minta ampun, tapi kalau sudah pecah jadi plong. Hanya jangan sampai salah perkiraan. Dikira bisul ternyata tumor.

Di tahun 2008 ini, kita bakal tahu apakah bisul itu pecah atau justru menjadi tumor. Jujur, kita berharap hubungan KONI-Mennegpora jangan pecah.

*) sumber artikel & foto

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s