Ronny Firmansyah, from Zero to Hero


Ronny Firmansyah (kiri)Sudah bukan rahasia lagi kalau setiap manajer atau pelatih membawa pemain-pemain yang dirasa cocok dan telah dikenalnya pada tim baru yang mereka latih. Contohnya adalah Beny Dollo yang di awal musim balik ke Persita Tangerang diikuti Andela Atangana, Putu Gede, Leo Saputan, hingga Firman Utina. Tidak jauh beda dengan Miroslav Janu yang datang ke Arema dan membawa serta beberapa pemain yang telah ia “kenal” seperti Hendro Kartiko, Elie Aiboy, Ortizan Salossa, Akbar Rasyid, hingga kapten timnas Ponaryo Astaman. Tapi ada satu nama yang selalu menjadi pilihan utama Janu sejak awal musim khususnya di lini tengah yaitu Ronni Firmansyah.

Mantan pemain Persmin Minahasa tersebut sejak awal musim hampir selalu mendapat tempat di tim inti Arema, padahal di sana terdapat nama-nama lain seperti Ponaryo Astaman dan Akbar Rasyid, atau pemain lawas seperti Sutaji. Bahkan di ajang Liga Champions Asia, Janu mempercayakan lini tengah Arema kepada pemain-pemain lokal dengan tidak mendaftarkan nama dua pemain asing Arema saat itu, Joao Carlos dan Anthony Jommah Ballah, yang akhirnya dicoret pada jeda paruh musim.

Awal karirnya di Arema tidak dilalui dengan mudah oleh Ronny Firmansyah. Meskipun sering mendapat kesempatan bermain, gelandang kelahiran 4 Mei 1981 tersebut masih belum menunjukkan kualitasnya. Gaya permainannya yang biasa-biasa saja sering mendapat teriakan dan kritik dari Aremania. Terlebih saat performa tim menurun pada putaran pertama lalu.

Salah satu nilai plus dari Ronny adalah spesialisasi free-kick dan mobilitasnya di lini tengah sebagai penyeimbang Ponaryo Astaman yang bertipe menyerang dan Sutaji yang bertipa breaker. Karakter inilah yang mungkin sesuai dengan selera Miroslav Janu yaitu sepakbola spartan ala Eropa Timur yang banyak mengeksploitasi fisik dan power.

Di putaran kedua, penampilan Ronny di lini tengah Arema semakin membaik dan hampir selalu menjadi starter. Beberapa momen penting dari Ronny di antaranya adalah gol Emile Mbamba dari sepak pojok Ronny saat mengalahkan Persijap 5-3, gol Patricio Morales dari bola rebound Ronny saat mengalahkan Persis Solo 1-0, gol Ronny sebagai pembuka kemenangan 3-1 Arema atas Persiwa Wamena, hingga yang terakhir dan sangat krusial adalah gol Ronny dari free-kicknya ke gawang Persebaya Surabaya yang membawa Arema ke babak delapan besar.

Sepakbola adalah permainan tim, sebaik-baiknya permainan seorang pemain tidak akan mengubah hasil pertandingan tanpa kerja sama dengan sepuluh rekannya. Pun demikian dengan Ronny Firmansyah. Dalam wawancaranya dengan OngisNade.Net beberapa waktu yang lalu, dia berujar bahwa yang paling penting adalah permainan tim dan memperoleh hasil maksimal.

Kita tunggu apakah Ronny mampu kembali menjadi salah satu hero Arema di babak delapan besar nanti.

*) foto diambil dari sini

Iklan

8 pemikiran pada “Ronny Firmansyah, from Zero to Hero

  1. Hero lokale asli malang sing main di AREMA kurang wakeh sam..
    Moga – moga taon depan banyak bermunculan Hero ilsa ngalam..

  2. boz ingat2 rony firmansyah berasal dari mana????
    klub anggota internal surabaya kan.

    mana pruduksi pemain handal mu.
    klo sudah berhasil baru kalian bisa juara liga…

    emang suporter bisa main d lapangan.
    pemainan ne uakeh dunk..

    mikir o sek tah…
    dasar edan….
    edan kok seneng…

  3. @ ikonade :
    sejatinya semua pemain bisa menjadi hero

    @ aremania licek :
    mugo2…

    @ BIM-BIM :
    salam gawe nawak2 Aremania Batavia

    @ thenk bonek :
    mslh ronny berasal dr klub mana, sy sudah tau, mlh smpat berbincang dgn ronny, lihat bagian wawancara
    mslhnya mungkin sperti ini, anda fans barcelona, dan berkomentar hal yg sama kepada Cesc Fabregas
    mgkn ini bisa menjadi contoh bagi pemain lain di era sepakbola profesional

  4. boz ingat2 rony firmansyah berasal dari mana????
    klub anggota internal surabaya kan.
    ( betuol sekali bawahanku iki…hihihihi..)

    mana pruduksi pemain handal mu.
    klo sudah berhasil baru kalian bisa juara liga…
    ( memang QT masih produksi kok..n ngapain QT nunggu produksinya matang lha wong banyak tim yang sudah matang produksinya justru terkubur kaku di klasmen akhir, mau bikti?? ga usah wes ntar boneng tambah malu deh.hihihihi..)

    emang suporter bisa main d lapangan.
    pemainan ne uakeh dunk..
    ( buat apa wasit dan hakim garis dilapangan ? baca buku sd dolo boneng..!!! )

    mikir o sek tah…
    (sudah ku jawab khan!!..)

    dasar edan….
    edan kok seneng…
    ( tingkat pengetahuan QT tak sebanding..QT AREMANIA berada di dataran tinggi sedang boneng berada di dataran rendah..hihihihi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s