Sepakbola Indonesia Butuh Revolusi


PSSIIndonesia tampil memukau di Piala Asia 2007 ketika tim asuhan Ivan Kolev mengalahkan Bahrain 2-1 dan bertarung ketat melawan Arab Saudi dan Korea Selatan sebelum menyerah 1-2 dan 0-1. Gara-gara itu, Presiden SBY sampai berteriak di Stadion Utama Gelora Bung Karno: “Kita rebut medali emas SEA Games!”

Harapan SBY dan publik sepakbola Indonesia menguat tatkala menyaksikan performa Timnas U-23 untuk SEA Games 2007 dalam lima kali ujicoba internasional di Argentina.

Tiga bulan kemudian, masyarakat sepakbola Negeri ini terhentak ketika Suriah mencukur Bambang Pamungkas dan kawan-kawan 1-4 dalam babak kualifikasi Piala Dunia 2010. Hanya berselang sepekan, Timnas U-23 digunduli 7-0 oleh Suriah dalam partai tandang di Damaskus.

Kok bisa bisa dihantam Suriah setelak itu? Jawabannya satu: ada yang salah dalam pembangunan sepakbola Indonesia modern. Pelatnas konvensional jangka panjang kembali gagal mengangkat kualitas tim nasional Indonesia. Namun bukan pelatnas jangka panjang yang salah. Itu memang harus dilakukan untuk mengatrol kualitas timnas.

Lantas, apa yang salah dan apa yang harus dilakukan? Dari obrolan dengan Ivan Kolev dan manajer Andi Darusallam, ada tiga persoalan mendasar dalam sepakbola Indonesia yang menuntut adanya revolusi besar-besaran. Yaitu, memperbanyak lapangan bermutu di seluruh Tanah Air, mutu dan kebijakan kompetisi, khususnya batasan jumlah pemain asing, dan pertandingan ujicoba internasional bermutu tinggi dan kontinyu.

Menurut Kolev, persoalan terbesar timnas U-23 adalah dalam sektor penyerangan. Bahkan menurut Kolev, persoalan triker adalah salah satu persoalan sepakbola Indonesia masa kini. Salah satu contoh, kata Kolev, semua striker Indonesia cepat sekali kehilangan bola sehingga sulit merancang penyerangan yang efektif. Akibatnya, selain sulit menciptakan peluang, pemain tengah lain menjadi kehilangan kepercayaan diri untuk memainkan bola dengan striker.

”Anda coba lihat, hanya Bambang Pamungkas yang bisa disebut striker berkelas di Indonesia. Dia komplit sebagai striker, yang lain saya tidak temukan. Apalagi di timnas U-23 ini, tidak ada striker dengan berkualitas tinggi. Kamu lihat tim lain di SEA Games ini, hampir semua punya striker berbahaya,” ujar Kolev.

Kolev tidak menampik kalau banyaknya pemain asing di sebuah tim peserta liga profesional Indonesia menjadi salah satu akar persoalan. Hampir semua tim memakai dua striker dan playmaker asing. Memang ada striker dan playmaker lokal yang jadi starter, tapi seringkali hanya jadi pelapis akibat striker dan playmaker asing cedera atau terkena akumulasi kartu.

”Saya tidak mau menyalahkan orang lain. Tapi, Anda bisa simpulkan sendiri dampak bagi striker dan playmaker lokal Indonesia dari kondisi seperti itu,” ujar Kolev.

Kolev juga mengklarifikasi bahwa dirinya tidak pernah mempersoalkan kualitas, sistem permainan yang dikembangkan pelatih klub-klub Indonesia. Sebab, jelas Kolev, di negara mana pun di dunia ini, tak ada pelatih timnas mencampuri urusan pelatih klub.

”Tiap pelatih punya sistem dan gaya berbeda. Itu normal di mana pun. Pelatih timnas berkewajiban menangani pemain-pemain terbaik yang ditempa para pelatih klub,” ujar Kolev.

Kolev menyatakan, dirinya hanya menyoroti persoalan mendasar sepakbola Indonesia yaitu lapangan sepakbola yang sedikit dan mutu sangat jelek. Menurut Kolev, masalah lapangan berlatih dan stadion bertanding sebenarnya masalah sepele. Tapi, sangat penting dalam proses membentuk pemain sepakbola dari kecil hingga dewasa.

”Siapa pun pelatih klub di Indonesia, sulit menerapkan taktik permainan modern yang cepat, kuat, dan efektif kalau lapangan buruk. Potensi besar pemain Indonesia juga tidak bisa berkembang di atas lapangan buruk,” kata Kolev.

Di Brasil, cerita Kolev, sekitar 5000 pemain muda bermain bola tiap hari. Di Indonesia juga ribuan orang bermain bola setiap hari. “Bedanya, pemain-pemain di Brasil bermain di lapangan rata dan rumput bagus. Di Indonesia, anak-anak bahkan pemain profesional bermain di lapangan jelek. Outputnya juga tentu beda,” ujar Kolev.

Pernyataan Kolev dibenarkan asisten pelatih Timnas U-23 Widodo Cahyano Putro. Mantan striker timnas Indonesia ini bercerita, ketika timnas U-23 berlatih dan berujicoba di Argentina banyak sekali kemajuan yang dicapai.

”Pemain bisa bermain cepat, aliran bola cepat, kontrol dan passing akurat, serta shooting keras dan akurat. Seharusnya, itu bukan hanya terjadi dalam sebulan di Argentina, tapi sepanjang tahun di semua level kompetisi kita. Itulah dasarnya mengapa sepakbola di negara sepakbola maju bisa pelatnas jangka pendek tapi di Indonesia harus jangka panjang. Di Indonesia, butuh waktu untuk membangun permainan level tinggi di atas lapangan bermutu tinggi,” kata Widodo.

Persoalan serius lain yang harus dibenahi dalam sepakbola Indonesia adalah program tim nasional yang high standard, konsisten, dan kontinyu. Program pelatnas dan pertandingan internasional timnas seniornya, misalnya, berhenti total usai Piala Asia. Akibatnya, level teknik, taktik, mental, dan fisik, yang dicapai di Piala Asia hilang lenyap saat menghadapi Suriah.

”Tiga bulan waktu yang cukup lama. Selama dua bulan mereka fokus dilatih dan ditempa dalam lima kali ujicoba internasional dengan level lawan cukup tinggi. Waktu satu minggu tidak cukup untuk mengembalikan level performa pemain seperti di Piala Asia,” tutur Kolev.

Untuk mencapai level atas Asia, kata Kolev, level yang dicapai di Piala Asia – menang atas Bahrain 1-0, kalah tipis 1-2 dari Arab Saudi, dan 0-1 dari Korea Selatan — seharusnya terus ditingkatkan dengan berujicoba melawan tim-tim papan atas Asia.

”Dari Piala Asia terlihat jelas Indonesia punya potensi besar masuk jajaran elit Asia. Problem mental pemain Indonesia yang lemah bisa diatasi hanya dengan melakukan pertandingan internasional level tinggi,” tutur Kolev.

Dalam pandangan Kolev, sudah saatnya, Indonesia tidak lagi melihat persaingan di Asia Tenggara, tapi sudah bekerja keras masuk level Asia.

”Dan saya sangat yakin itu bisa karena Indonesia punya banyak sekali pemain dengan teknik bagus. Soal mental dan kematangan tim, itu terbangun dengan sendirinya lewat pertandingan internasional level tinggi yang kontinyu dan konsisten,” ujar Kolev.

Kebijakan Khusus

Kolev menjabarkan, Timnas U-23 memiliki potensi bagus untuk menjadi second-team Indonesia saat ini. Banyak pemain berteknik bagus. Mereka juga mengalami banyak kemajuan dalam organisasi permainan, taktik, dan gaya permainan pendek cepat rapat khas Indonesia. Namun semua itu bisa hilang dalam beberapa bulan ke depan kalau tim ini tak punya program jangka panjang, khususnya bertanding di level internasional.

Problem ’tiba masa tiba akal’ sudah harus dibuang jauh-jauh. Jangan sampai karena tak ada event U-23 – SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade – selama tahun 2008, lantas program friendly match timnas U-23 ditiadakan. Sebagian pemain di timnas U-23 sekarang masih 20 dan 21 tahun dan itu harus menjadi dasar untuk pembentukan timnas U-23 dengan acuan usia SEA Games 2009.

”Timnas U-23 memang harus ada di sebuah federasi. Bahkan di Eropa dan Amerika Latin, ada timnas U-21 selain timnas U-19 dan U-17. Semua itu merupakan sebuah kesatuan pembinaan timnas yang berkesinambungan seperti halnya kompetisi berjenjang yang berkesinambungan,” kata Kolev.

Tim ini sudah mencapai level atas di Asia Tenggara. Mereka hanya butuh bertanding dan bertanding internasional untuk menjadi matang sebagai penerus timnas senior. Selain program pertandingan internasional yang rutin, para pemain ini juga perlu terobosan khusus, misalnya, mampu masuk klub profesional elit Tanah Air dan harus mampu bersaing untuk menjadi starter.

Menurut Kolev, timnas ini pasti akan terus berkembang. ”Karena selain bertanding internasional, kualitas materi timnas U-23 ini juga akan terus bertambah dari kompetisi nasional,” jelas Kolev.

Program timnas senior juga harus rutin dan kontinyu. Tidak dicampur-adukkan dengan timnas U-23. Sebab, level dan sasaran mereka berbeda. Jadi, level Bambang Pamungkas dkk yang dicapai di Piala Asia lalu harus segera dikembalikan dan ditingkatkan lewat program pertandingan internasional yang rutin, minimal sekali sebulan.

”Jangan menunggu satu dua bulan jelang Piala AFF akhir 2008. Hanya dengan begitu, timnas tak perlu pelatnas panjang karena performa mereka terjaga dengan pertandingan internasional bermutu tiap bulan,” ujar Widodo C. Putro.

*) artikel diambil dari sini

Iklan

Satu pemikiran pada “Sepakbola Indonesia Butuh Revolusi

  1. Setuju, memang sepakbola kita perlu revolusi,coba bayangkan apa yang kurang dengan kita, talenta-talenta muda bertebaran di seluruh tanah air, suporter kita sangat fanatik, menurut saya yang kurang adalah kemampuan kita mengelola sepakbola tanah air. Saatnya kita berikan kesempatan kepada figur-figur yang profesional untuk mengurusi sepakbola secara profesional. Salam kenal dan Salam Sepakbola Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s