Kompetisi Tanpa Makna


Liga Djarum Indonesia 2007Kompetisi sepak bola Indonesia musim ini terasa sekali tidak lagi mempunyai arti. Sebab, esensi sejati dari sebuah kompetisi sudah tidak bisa ditemukan di arena kompetisi sepak bola Indonesia . Betapa tidak, di tengah perhelatan Liga Indonesia (Ligina) 2007, PSSI dengan entengnya mengumumkan penghapusan degradasi.

Uniknya, penghapusan tersebut tidak sekedar berlaku untuk Divisi Utama semata. Tapi, itu juga diperuntukkan bagi kasta di bawahnya. Dengan penghapusan tersebut, peta persaingan pun jauh mengendur. Itu sama artinya bahwa esensi kompetisi menjadi kabur. Pasalnya, esensi sejati sebuah kompetisi sepak bola adalah persaingan.

Tim yang memenangi persaingan bakal mendapat penghargaan. Sebaliknya, yang kalah menerima hukuman. Salah satu bentuk imbalan persaingan di kompetisi sepak bola berwujud promosi dan degradasi.

Saat kondisinya seperti itu, PSSI kini kembali membuat keputusan mengejutkan. Sambil melobi AFC agar Indonesia tetap diizinkan mengikuti Liga Champion Asia (LCA) 2008, PSSI kini “menyiapkan” Sriwijaya FC dan Persipura Jayapura sebagai wakil di LCA 2008. Penunjukan yang salah kaprah. Sebab, keduanya belum berstatus juara, baik Ligina maupun Copa Indonesia 2007.

“Penunjukan yang jelas tidak fair. Ini merupakan malapetaka bagi persepakbolaan Indonesia . Dasar kelayakan yang diberikan PSSI terhadap Sriwijaya FC dan Persipura jelas menjadi pertanyaan. Sebenarnya, masalah kan berpangkal pada keputusan PSSI yang sering mengubah jadwal,” ujar M. Taufik, manajer Persitara Jakarta Utara.

“Rangkaian kejadian yang boleh dibilang sangat memalukan bangsa. Bagaimanapun keputusan yang diambil pijakan awalnya adalah sebuah kesalahan,” timpal Ahmad Syauqi, general manager PSIM Jogjakarta.

Memang, sudah sewajarnya kalau PSSI berusaha agar wakil Indonesia tetap diberi kuota untuk bertarung di LCA 2008. Cuma, menunjuk Sriwijaya FC dan Persipura tentu menjadi tanda tanya. Sebab, tidak semestinya semua klub yang masih berpotensi menggenggam gelar juara, baik di Ligina maupun Copa, dikorbankan begitu saja.

Apalagi, mereka sudah menghabiskan biaya miliaran rupiah dari uang rakyat. Belum lagi, seperti yang diuraikan M. Taufik, pokok terancamnya Indonesia tanpa wakil di LCA 2008 lantaran perubahan jadwal yang kerap dilakukan oleh PSSI.

Ya, karena perubahan itu, kompetisi Indonesia jadi molor. Sehingga, saat pendaftaran klub peserta LCA 2008, Indonesia belum bisa mengirimkan nama karena kompetisinya belum menghasilkan juara. “Kami tidak pernah lalai. Jadi, ini semua bukan karena kelalaian. Ini murni karena kompetisi yang belum selesai karena sempat terhenti untuk penyelenggaraan Piala Asia. Apalagi, AFC pernah mensyaratkan kompetisi di Asia harus dihentikan enam minggu sebelum Piala Asia,” tutur Andi Darussalam Tabusalla, ketua Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI).

Apa pun dalihnya, yang jelas, dengan kondisi seperti sekarang persaingan di Ligina maupun Copa tidak lagi berarti. “Terus terang saya kaget dengan kenyataan ini. Padahal, seharusnya wakil ke Liga Champion Asia ditentukan setelah kompetisi selesai,” ujar Fandi Ahmad, pelatih Pelita Jaya Purwakarta.

“Kalau kenyataannya seperti ini, tentu sekarang kami tinggal menggugurkan tugas untuk menyelesaikan kompetisi,” sambung Robby Darwis, tim pelatih Persib Bandung, dengan nada kurang bersemangat. (fim/noz/ko/jpnn)

sumber: milis Arema, LintasBerita.Com, JawaPos.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s