Pro Kontra Dana APBD Untuk Klub


Liga Djarum Indonesia 2007Soal dana APBD memang sedang ramai dibicarakan. Klub-klub Liga Indonesia yang belum lama ini berkumpul di Tangerang, merasa dana APBD itu sangat membantu mereka untuk berkompetisi. Bahkan selama ini harapannya hanya itu. Tanpa dana APBD klub-klub akan bubar. Mana yang benar? Lebih baik bubar saja yang memang tidak bisa mengelola klub secara mandiri. Namanya juga kompetisi bersifat profesional, kenapa ketergantungan kepada pemerintah begitu besar?

Mari kita berbicara soal dana klub-klub Liga Indonesia. Judul berita di varia olahraga Kompas (Selasa, 20/11) berbunyi: “Promosi ke Divisi Utama, PSP Padang Galang Dana”.

Sangat menarik membaca berita kecil itu. Perkiraan galang dana adalah menghimpun dana dari luar untuk kegiatan berkompetisi di divisi utama Liga Indonesia. Seperti diketahui setelah merebut juara Grup I wilayah Sumatera Divisi I, PSP lolos ke divisi utama. Sehingga wakil dari Sumatera Barat ini untuk kompetisi depan ada dua klub, yaitu PSP dan Semen Padang yang sudah berkiprah lebih dulu.

Namun, agak kecewa juga setelah membaca lanjutan berita bahwa alasan menghimpun dana karena dana APBD yang diperoleh tidak akan cukup untuk laga semusim. Wah, busyet dah, kenapa harus memakai dana APBD lagi?

Soal dana APBD memang sedang ramai dibicarakan. Kalau para pengamat hingga rakyat menghendaki, jangan lagi memakai dana itu. Sebab, seperti keputusan Menteri Dalam Negeri, bahwa dana yang dimaksud bukan hanya untuk kepentingan sepakbola, tapi juga cabang-cabang lain, dan kegiatan sosial yang lain.

Sementara itu, untuk klub-klub Liga Indonesia yang belum lama ini berkumpul di Tangerang, merasa dana APBD itu sangat membantu mereka untuk berkompetisi. Bahkan selama ini harapannya hanya itu. Tanpa dana APBD klub-klub akan bubar.

Mana yang benar? Lebih baik bubar saja yang memang tidak bisa mengelola klub secara mandiri. Namanya juga kompetisi bersifat profesional, kenapa ketergantungan kepada pemerintah begitu besar?

Barangkali rakyat tidak akan marah, kalau hasil yang dicapai dari sepakbola ini memang sesuai dengan harapan. Sepakbola dapat mengangkat martabat bangsa dan negara. Tapi yang muncul sekarang ini, prestasi yang menukik terus. Rakyat sangat wajar kecewa, karena uang yang digunakan berasal dari rakyat.

Apalagi penggunaan anggaran di klub-klub sangat tidak wajar. Akuntabilitasnya sulit dipertanggungjawabkan. Laporan keuangannya amburadul.

Pemain digaji gede-gede, mana hasilnya? Yang untung justru pemain-pemain asing itu. Dibayar besar, tapi tidak bisa mengangkat sepakbola Tanah Air secara keseluruhan.

Tapi, kalau disusuri lagi banyak komentar, kalau gaji dan kontrak besar buat pemain-pemain asing, karena juga harus membagi upeti kepada pengurus-pengurus klub. Ujung-ujungnya adalah banyaknya permainan di PSSI dan juga pemerintah-pemerintah daerah bersama dewan legislatifnya. Mark-up biaya terjadi di mana-mana. Belum lagi kekecewaan mendalam dari sponsor.

Rumit, ruwet, ribet, kusut!

Sebenarnya tidak. Kalau mau jempol, semestinya klub-klub dari divisi I yang berpromosi ke divisi utama memulai langkah profesional. Menolak APBD, lalu mencari sponsor dengan cara elegan. Bisa saja sponsor itu datang umpamanya dari suatu bank pemerintah. Tidak apa-apa, tapi berbentuk bisnis. PSP pasti mampu, apalagi banyak urang awak yang siap membantu.

Bagi klub-klub yang tidak mampu berkompetisi secara profesional, jangan dimatikan. Mereka bisa berlaku sebagai klub amatir yang dibina oleh KONI Provinsi dan Pengda PSSI. Kompetisi bagi klub-klub amatir juga ada lahannya.

Sudah saatnya, kompetisi utama sepakbola kita digelar di bawah sistem yang profesional. Karena kita berharap hasil yang muncul pun tidak kalah dari pembinaan di negara-negara yang sudah maju sepakbolanya.

*) artikel ini diambil dari blog Lilianto Apriadi

3 pemikiran pada “Pro Kontra Dana APBD Untuk Klub

  1. Tidak bisa tidak…ketergantungan klub pd APBD harus dihapuskan..biarkan sepakbola berkembang menjadi industri yg professional

    semuanya demi kebaikan olahraga itu sendiri ko, sehingga nantinya muatan2 korupsi dan alat politik juga bisa dihapuskan dr sepakbola !!!! :)

  2. Wah kalo tradisi ketergantungan klub pada APBD terus dilanjutkan maka sepakbola hanya akan jadi ajang para pejabat daerah untuk korupsi.Contohnya aja PERSEMA dengan dana hampir 17 M ternyata kualitas pemain baik asing maupun lokal masih kalah dengan saudara mudanya AREMA FC yang oleh Bentoel hanya didanai 15 M.Mark up harga dan kontrak pemain sudah bukan rahasia umum lagi.Uang APBD yang seharusnya untuk pembangunan malah dipakai membiayai SEPAKBOLA dan itupun masih disunat oleh para koruptor2 busuk itu.Bagaimanapun juga Klub harus mandiri dalam mencari sponsor untuk kelangsungan hidupnya inilah satu2 nya cara menciptakan sepakbola sebagai INdustribaru di negeri ini.

  3. Memang seharusnya urusan sepakbola lepas dari pemerintah, supaya liga indonesia menjadi lebih proffesional dan berkualitas, contohlah AREMA dan SRIWIJAYA FC, mereka hidup tanpa dana APBD, buktinya mereka bisa menjadi klub profesional dan menjadi klub papan atas, sudah saatnya kita berubah demi kemajuan Sepakbola nasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s