Eksperimen Apa Lagi PSSI?


Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia bersama Badan Liga Indonesia merencanakan diselenggarakannya sebuah kompetisi dalam bentuk baru yang akan diberi nama Liga Super. Niatnya, ajang laga sepak bola nasional tertinggi tersebut sudah akan digelar pada tahun 2008.

Kata Joko lagi, sejumlah negara di Asia, bahkan di Asia Tenggara, sudah memiliki kompetisi semacam itu. Artinya, Indonesia tak boleh ketinggalan kereta untuk meningkatkan strata atau kualitas kompetisi yang ada sekarang ke taraf yang lebih baik. AFC (Konfederasi Sepak bola Asia) dan AFF (Federasi Sepak bola ASEAN) pun katanya sudah menyatakan dukungannya, terutama dalam menyusun manual pengelolaan klub.

Di antara persyaratan klub yang bisa masuk Liga Super (LS) adalah keharusan memiliki tim yunior di semua tingkatan umur. Klub juga harus punya perangkat pendukung di bidang medis, fisioterapi, dan gizi. Stadion yang dimiliki (atau disewa sebagai kandang) pun harus dilengkapi dengan lampu penerangan, rumput bagus, tribun untuk VIP, ruang pers, kamar ganti pemain maupun wasit. Singkatnya, harus memenuhi semua persyaratan sesuai standar AFC dan AFF.

Pengalaman Galatama
Sekilas pintas konsep LS ini memang menyemburkan janji atau harapan akan munculnya kompetisi dengan bentuk dan wajah yang ideal. Yang terbayang kemudian adalah dengan kompetisi sebagus itu nanti tentunya akan dihasilkan pemain-pemain hebat untuk membentuk tim nasional yang juga ideal. Katakanlah setidaknya bisa menjadi jagoan di Asia Tenggara, syukur-syukur bisa merebut tiket ke putaran final Piala Dunia, sebuah impian kuno yang belum juga terjawab.

Namun dengan pengalaman demi pengalaman di masa lalu, dan dengan karakter orang kita yang umumnya tidak tahan uji, tidak konsisten, tidak konsekuen, ingin hasil cepat, mudah bosan dan putus asa, saya khawatir LS tidak akan menuai hasil seperti yang diharapkan. LS jangan-jangan hanya akan menjadi sebuah eksperimen lain dalam sejarah penyelenggaraan kompetisi oleh Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI).

Lebih dari 25 tahun lalu, tepatnya 1979, tatkala PSSI dipimpin Ali Sadikin, konsep penyelenggaraan kompetisi seperti LS sebenarnya sudah hadir di negeri ini dengan label Liga Sepak Bola Utama alias Galatama. Lumayan menggigit dan menggairahkan minat masyarakat terutama setelah ikut tampilnya pemain-pemain asing. Persyaratan untuk menjadi anggota juga ketat, termasuk memiliki tim yunior dan harus pula didukung dana yang kuat lewat garansi bank. Namun, Galatama tidak mampu meneruskan dekade keduanya. Ajang laga nasional pun sempat kosong sampai muncul kompetisi baru dengan konsep gado-gado bernama Liga Indonesia pada 1994.

Tak pernah ada kajian khusus dari PSSI mengapa Galatama, yang berorientasi pada klub dengan semangat profesional, mati muda. Namun, menurut hemat saya, Galatama roboh lantaran beberapa hal, tetapi yang utama karena ibarat rumah dia hanya atapnya. Rumah Galatama lemah dan cepat rapuh karena tak ditopang dengan tiang dan fondasi yang kuat.

Galatama waktu itu populer disebut sebagai “universitasnya” sepak bola, tetapi tak ada “SLTA” yang mendukung dan memasok calon mahasiswanya. Bahkan, Perserikatan-perserikatan anggota PSSI yang ditempatkan dan diharapkan sebagai “SLTA”-nya lalu memusuhinya, membuat situasi dan kondisi persepakbolaan tidak kondusif, berujung dengan bubarnya Galatama. Dari situ pula muncul gagasan memunculkan Liga Indonesia yang beranggotakan campuran, Klub dan Perserikatan.

Utamakan Asia
Kini Divisi Utama Liga Indonesia, di awal dekade kedua usianya, akan ditarik ke atas menjadi Liga Super. Tidak jelas dari keterangan Joko berapa maksimal jumlah anggotanya nanti. Juga apakah mereka harus klub, atau boleh “pseudo klub” alias “klub- kluban” seperti kebanyakan yang ada di Liga sekarang.

Namun yang lebih penting, jangan meniru Galatama yang asyik sendiri berada di puncak seolah- olah rumah mereka di langit. LS harus tetap terikat dan bersinergi dengan divisi-divisi di bawahnya. LS harus menjadi bagian dari sistem kompetisi liga, dan bukan sistem yang berdiri sendiri. Seperti Liga Premier di Inggris atau Serie A di Italia itulah.

Satu hal lagi yang ingin saya usulkan, batasi kuota pemain asing tiap klub sampai tiga saja. Atau boleh lima, tetapi hanya dua atau tiga yang bisa dimainkan dalam satu pertandingan. Kehadiran pemain asing perlu demi kesemarakan dan mutu kompetisi, jangan sampai mengurangi peluang pemain lokal untuk menampilkan kemahirannya.

Lebih dari itu, utamakan pemain dari Asia sendiri. Jangan lagi mengimpor pemain dari Afrika atau Amerika Latin. Mereka mungkin lebih talented, lebih murah dan konon “lebih bisa diatur”, tetapi harus disadari, kompetisi harus bermuara pada tangguh dan unggulnya tim nasional PSSI. Dan siapakah pesaing-pesaing kita menuju Olimpiade atau Piala Dunia? Siapakah lawan-lawan kita di SEA Games, Asian Games, Piala Asia? Tidak satu pun, dan tidak akan pernah, dari Benua Afrika atau Amerika.

Terakhir, untuk bisa menciptakan manajemen kompetisi secara prima, organisasi BLI maupun PSSI tentunya harus kokoh dan bersih. Jangan bertikai sendiri, jangan ada pelanggaran tanpa hukuman. Fair play harus lebih dulu menjadi sikap hidup pengurus sebelum diarahkan sebagai slogan kepada pemain dan penonton. (Sumohadi Marsis,Penggemar Sepak Bola) sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0610/13/or/3023538.htm

Satu pemikiran pada “Eksperimen Apa Lagi PSSI?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s